Diplomasi Tukang Kayu

Diplomasi Tukang Kayu
Ilustrasi/Net

PASCA demonstrasi penolakan UU KPK terasa adem ayem. Tidak ada lautan manusia di jalan raya ibu kota, terutama di sekitaran gedung parlemen. Sepi seiring dengan perkawinan silang karena bagi-bagi jabatan.

Adalah tangan dingin mantan penguasa mebel, bisa melicinkan kayu kasar politik tanah air. Perkakasnya masih tajam yang dengan mudah menghilangkan benjolan di permukaan. Terus melapisinya dengan cat warna warna, dengan dominasi warna merah.

Diplomasi penyerut kayu terbilang berhasil. Semua benjolam terkikis habis sampai mengkilat untuk dijajakan di pinggir jalan. Yang lewat terpukau dengan kilatan mebel bercat warna warni.

Bukan hanya terpukau, tapi meniatkan satu saat nanti sekedar mampir ke pemilik toko. Menyertainya dengan jamuan segelas teh di sudut beranda belakang toko. Minimal menanyakan kabar tentang sulitnya berusaha menyenangkan setiap yang datang.

Suasana ini membuat orang yang hendak menjadikan jalanan tempat unjuk kritik atas produknya tidak lagi ada energi. Pasalnya hampir semua penikmat mebel yang dijajakan tidak ada yang simpati pada kritik yang akan disampaikan.

Sumbatannya tidak tanggung-tanggung, pelanggan yang berang itu kini sudah dapat harga khusus. Barang bagus kualitas impor dengan harga kompetitif ditambah jaminan kualitas barang tahan lama. Bahkan kalau mau dijual kembali bisa dapat untung, minimal tidak berkurang seperti produk di tempat lain.

Para penyambung aspirasi akhirnya gigit jari. Satu saat memang masih terasa getaran kritik, minimal pada cara menjajakan produk itu tidak seelok etika pasar. Menjatuhkan pesaingnya dengan cara paling mengagetkan, mengajak bergabung untuk menjajakan barangnya di toko yang sama.

Kalaupun mereka tidak mau, dibiarkan jalan sendiri tapi dengan jalinan mesra. Tidak ada lawan berjualan, bagi-bagi keuntungan dengan tidak memproduksi mebel sejenis. Atau jika sejenis bisa satu saat menarik barangnya untuk dilepas pada pelanggan yang sama.

Gaya menghaluskan yang kasar memang patut dicoba bagi siapa aja yang ingin mendapat banyak hal di tengah dinamika politik. Kemungkinan banyak ditiru ketika elit tersudutkan dalam usaha menyenangkan banyak orang.

Tapi ongkos yang harus harus dibayar lumayan mahal dengan insting tingkat dewa. Terutama bisa meyakinkan lawan bahwa politik hanya cara sesaat ketika kontestasi. Kalau laga telah usai bisa menggunakan bagi-bagi kavling kekuasaan.

Setelah masuknya Prabowo menjadi menhan, banyak mengejutkan banyak orang. Yang tadinya berdarah-darah dalam hajatan pilpres tapi berakhir di pelaminan bagi-bagi kekuasaan. Drama politik paling mengejutkan banyak orang.

Tadinya kita berharap pada demokrasi berkualitas dengan hadirnya daya penyeimbang kuat. Tapi prediksinya bakal ada oposisi yang kurang berarti dalam membangun demokrasi di negeri ini.

Pemerintahan ke depan bakal menghadirkan kekuasaan begitu sempurna. Dari atas sampai bawah akan bergerak secara simultan melahirkan sikap yang tentu saja mendukung semua kebijakan presiden.

Belum lagi kenyataan ketua lembaga legislatif yang notabene pendukung pemerintah. Mereka akan dengan mudah melahirkan suasana politik yang terlihat gamblang tidak seindah dalam bayangan konsep demokrasi ideal.

Diplomasi tukang kayu ternyata menghadirkan dinamika politik yang boleh jadi tidak sepenuhnya sama dengan suasana rezim baru, tapi semangat sepi dari peran aktual oposisi akan sangat terasa di ruang publik.

Inilah zaman reformasi rasa orde baru, ketika keran keterbukaan telah hadir tapi tidak ada preseden positif dalam konteks saling kontrol. Kalaupun ada kontrol akhirnya selesai dalam skema berbagi kekuasan yang pada gilirannya mengoyak daya penyeimbang yang terbangun selama ini.

Zaman now adalah paradoks demokrasi paling memprihatinkan. Ketika para kontestan akhirnya bersuka ria dalam kebersamaan membangun bersama selama lima tahun mendatang.

Kebersamaan itu sepintas lalu indah, tapi kita lupa bahwa kekuasaan yang dibiarkan tanpa kontrol akan mengorbankan kepentingan rakyat. Tidak ada pilihan sehingga menghilangkan kemungkinan lain lebih baik lagi.[***]

Top