Data Inflasi Tersokong Data China, IHSG Melambung Fantastis 1,96 Persen

Data Inflasi Tersokong Data China, IHSG Melambung Fantastis 1,96 Persen
Ilustrasi: China industry/Net

KATTA - Serangkaian sentimen kurang menguntungkan dari prospek perundingan dagang AS-China, nampaknya dengan mudah tertepis oleh rilis data terkini dari kinerja perekonomian China.

Sikap pelaku pasar akhirnya mampu menghantarkan indeks untuk bertahan di zona positif dalam mengawali sesi perdagangan hari perdana pekan ini, Senin 2 Desember.

Dari sejumlah laporan yang berhasil dihimpun di kalangan pelaku pasar menunjukkan, investor yang masih kuat untuk bertahan dengan optimisme menyusul rilis data indeks aktivitas manufaktur China yang disebutkan mencapai 51,8 di bulan November lalu.

Indeks aktivitas manufaktur yang biasanya disebut dengan indeks PMI, kembali menunjukkan terjadinya pertumbuhan pada industri China yang merupakan perekonomian terbesar di Asia. Terjadinya pertumbuhan pada aktivitas industri di China membuat investor dengan mudah mengambil sikap optimis, terlebih besaran indeks PMI yang mencapai 51,8 tercatat melampaui ekspektasi analis yang berada di kisaran 51,4.

Rilis data oleh lembaga swasta di China ini juga semakin melengkapi data positif sebelumnya yang  dirilis oleh pemerintah China, di mana indeks PMI disebutkan mencapai 50,2 untuk bulan November lalu.  Untuk dicatat, posisi indeks PMI di atas 50 merupakan petunjuk terjadinya pertumbuhan, sementara sebaliknya, posisi indeks PMI di bawah 50 merupakan petunjuk terjadinya kontraksi.

Sentimen suram dari prospek perundingan dagang AS-China akhirnya untuk sementara ini ditinggalkan oleh investor dengan mudah. Aksi akumulasi akhirnya tumbuh dan bertahan hingga sesi perdagangan sore ditutup.

Pantauan menunjukkan, seluruh indeks di bursa saham utama Asia yang menikmati rally signifikan berkat sentimen rilis data China tersebut. Hingga sesi perdagangan berakhir. Bursa saham Jepang terlihat melakukan pesta besar, dengan Indeks Nikkei melonjak tajam 1,01% untuk terhenti di 23.529,5.

Lonjakan tajam juga dibukukan oleh bursa saham Hong Kong, dengan indeks  Hang Seng naik 0,37% untuk menutup sesi di 26.444,72. Sedangkan pada bursa saham Korea Selatan, indeks KOSPI tercatat menguat 0,19% untuk menutup sesi di 2.091,92, dan indeks ASX 200 di bursa saham Australia yang mengakhiri sesi dengan menguat 0,24% untuk parkir di 6.862,3.

Kepungan sentimen yang positif dari bursa regional akhirnya menjadi bekal tambahan yang berharga bagi  indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia. IHSG terlihat konsisten menapak zona penguatan tajam di sepanjang sesi hari ini.

IHSG kemudian mengakhiri sesi dengan melambung fantastis 1,96% untuk singgah di 6.130,05. Lonjakan IHSg sekaligus sebagai yang tertajam di antara seluruh bursa Asia.  Laporan juga menunjukkan, gerak melambung tajam IHSG yang kali ini terutama mendapatkan sokongan sentimen internal yang sangat positif dari rilis data inflasi bulanan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS mengklaim bahwa besaran inflasi sepanjang November lalu yang hanya 0,14% atau di bawah ekspektasi pelaku pasar yang berada di kisaran 0,2%. Kinerja inflasi yang kembali memperlihatkan situasi yang terkendali itu akhirnya disambut positif oleh pelaku pasar di Jakarta.

Aksi akumulasi akhirnya berlanjut setelah terjadi pada sesi perdagangan akhir pekan lalu. Pantauan juga memperlihatkan, gerak harga saham unggulan yang semakin terangkat dalam  sesi hari ini. Seluruh saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan melompat tajam, seperti:  BBCA, TLKM, BMRI, BBNI, BBRI, ASII, PGAS, SMGR, UNVR, BBTN, serta HMSP dan INDF.

Gerak naik tajam sejumlah besar saham unggulan tersebut kemudian dengan mudah  menggeret IHSG untuk melambung sangat tinggi.

Namun situasi positif yang berhasil dibukukan di bursa saham Indonesia terlihat berkebalikan dengan laporan dari pasar valuta. Gerak nilai tukar mata uang Rupiah terlihat masih harus terseret di zona merah. Rupiah bahkan terlihat konsisten menapak zona pelemahan di sepanjang sesi perdagangan hari ini.

Sementara pada pasar valuta  Asia, gerak nilai tukar mata uang Asia yang   cenderung berada  dalam tekanan jual. Hingga sore ini, seluruh mata uang Asia terlihat masih menginjak zona pelemahan. Investor di pasar valuta terlihat masih lebih tersita perhatiannya pada ancaman kegagalan perundingan dagang AS-China untuk menyegel kesepakatan.

Terkhusus pada Rupiah, hingga  sesi perdagangan sore ini berlangsung, tercatat masih ditransaksikan di kisaran Rp14.120 per Dolar AS atau merosot 0,14%.  Rilis data inflasi bulanan yang positif dengan  demikian gagal menyelamatkan Rupiah dari gelombang kemerosotan yang sedang menerpa seluruh mata uang Asia.[]

Top