Rebutan BUMN

Rebutan BUMN
Ilustrasi/Net

BABAK paling menjanjikan setelah kemenangan dalam pemilu adalah pengelolaan aset negara. Mengelola membawa banyak risiko coba dan salah, terkait silih berganti rezim tambah tren perkembangan bisnis mutakhir.

Dalam amatan terkini, akan terjadi orientasi penguasa industri dunia. Konon Afrika yang tadinya terbelakang bakal menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Sebabnya di negeri kulit hitam telah terjadi perkembangan penduduk dari segi kualitas dan kuantitas yang menjadi ancaman serius. Terutama dalam industri modern tentang teknologi informasi yang membius sebagian besar pelaku industri dunia.

Setelah menyaksikan banyak raksasa dunia tumbang menghadapi era digital, kita berharap cemas siapa gerangan bakal jadi juara. Rupanya prediksi jatuh ke komunitas yang selama ratusan tahun dianggap bukan berpotensi sebagai pesaing industri.

Lalu bagaimana kesiapan industri pelat merah kita yang saat ini jadi bancakan para pemenang. Korporasi yang tidak pernah mengakui keuntungan bakalan terseok tajam jika tidak mampu lepas dari jeratan sapi perah rezim pemenang pemilu.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa aset negara menjadi sumber kapital pemenuhan nafsu berkuasa. Meraih kepercayaan pemilih bukan diraih secara cuma-cuma, melainkan ada buah tangan ketika menjanjikan sesuatu mimpi tentang ibu pertiwi.

Niatan lepas dari jerat pemburu rente harus menjadi prioritas Jokowi jika BUMN bisa bersaing dalam turbin industri mutakhir. Kalau ternyata BUMN masih menjadi kado bagi pasukan berani mati jangan berharap akan kemajuan industri di masa mendatang.

Kita semua merasa prihatin jika rebutan kue plat merah ini masih belum bisa dihentikan. Padahal saat sama kita membutuhkan kesiapan kolektif menyematkan aset negara yang dalam beberapa sektor telah lunglai.

Pola monopoli yang tadinya amanah konstitusi untuk menjamin keberlangsungan bisnis sekaligus menjamin ketersediaan bagi rakyat, tapi pada praktiknya membuat BUMN menjadi lunglai menghadapi tantangan global.

Risiko rebutan BUMN makin besar di tengah masa kemenangan rezim sudah habis jatahnya. Setidaknya ada niat untuk sekuat tenaga mengambil kesempatan dalam waktu yang belum didapatkan dalam kontestasi politik berikutnya.

Kondisi ini akan menyeret produktifitas BUMN pada titik memprihatinkan, karena tidak orientasi mengembangkan. Bertahan dengan tumpukan hutang saja dianggap masih untung dibandingkan dengan lenyap dengan aset terus menyusut.

Cara pandang pada industri pelat merah sudah lama dipertahankan yang penyebab utamanya adalah niatan diri menempatkan BUMN sebagai target rebutan. Tidak ada yang tersisa dari setoran jabatan di lembaga kenegaraan, maka BUMN menjadi target terakhir para pemburu rente.

Nampaknya rebutan pelat merah ini masih akan bertahan dalam waktu yang belum bisa ditentukan. Masih belum terlihat usaha serius dari rezim penguasa untuk menghentikan kebiasaan buruk puluhan tahun ini.

Jika menilik penentuan para pengelola aset negara ini kita makin disadarkan tentang keengganan memperbaiki jeratan pemburu rente. Sebagian besar dari pengelola itu kalau bukan kolega dekatnya, adalah seseorang mumpuni dengan syarat menjadi hamba para penguasa.

Bahkan ada yang menjual jatah menguasai BUMN pada yang berminat dengan bandrol yang fantastis. Para tengkulak jabatan sudah sangat fasih menjelaskan kenapa harus jumlah tertentu seraya menyampaikan prospek bancakan dari BUMN yang ditawarkan.

Bayar di muka ini seperti kebiasaan jual paket tender yang menjerat para tengkulak APBN di senayan. Para peminat diminta setor sejumlah uang dengan tidak mengurangi keuntungannya nanti.

Ada yang mulus hingga selesai jabatan, tapi ada yang bernasib naas karena tertangkap KPK. Sudah keluar uang, jabatan hilang nama baik keluarga tercoreng dan terkurung jeruji besi. Bahkan ada yang sampai meninggal dalam masa hukuman.

Tapi itu tidak membuat jera, karena tidak ada jalan lain untuk sekedar mengabdi maupun menjalan roda bisnis di tengah persaingan ketat. Tidak ada rotan akar pun jadi, meski risiko dibui. Akhirnya BUMN pun jadi mati suri.[]

Top