Rizal Ramli: Tim Lama Payah, Cara Menggenjot Ekonomi Harus Diubah

Rizal Ramli: Tim Lama Payah, Cara Menggenjot Ekonomi Harus Diubah
Rizal Ramli/Net

KATTA - Ekonom senior DR Rizal Ramli mengapresiasi isi pidato perdana Joko Widodo sebagai Presiden 2019-2024 yang kebanyakan membahas soal kondisi ekonomi terkini dan visinya ke depan. Rizal menyampaikan sejumlah catatan penting agar target Jokowi di bidang ekonomi dapat terwujud. Diantaranya, Jokowi jangan lagi mempercayakan tim ekonomi kepada ekonom-ekonom di periode pertama kepemimpinanya.

Berikut wawancara dengan Rizal Ramli yang pernah menjabat Menko Ekui di era Pemerintahan Abdurrahman Wahid dan penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Jokowi menginginkan pada tahun 2045 Indonesia menjadi negara maju dengan pendapatan Rp 320 juta per kapita per tahun atau Rp 27 juta per kapita per bulan, tanggapan Anda?

Ya, itu lompatan yang sangat tinggi sekali. Kami melakukan perhitungan untuk bisa mencapai itu ekonomi Indonesia harus tumbuh antara 7-8% sampai tahun 2045. Dan memang ada negara lain yang berhasil ekonominya tumbuh di atas. 7-8%. Tiongkok misalnya, bisa naik kelas menjadi negara super kaya dan kuat secara ekonomi, ekonomi Jepang sehabis perang dunia kedua di bawah Perdana Menteri Ikeda, bisa tumbuh di atas 10% dalam waktu 20 tahun. Jadi kalau saya lihat cita-cita dan impian Pak Jokowi besar sekali.

Apa yang harus dikerjakan Jokowi agar bisa mewujudkan impian besarnya?

Kalau Pak Jokowi masih mengandalkan tim ekonomi yang lama, mohon maaf, payah. Karena pertumbuhan ekonomi hanya bisa segitu-segitu saja, hanya 5%. Kalau hanya 5% cita-cita besar Pak Jokowi tidak mungkin akan tercapai.

Tim ekonomi periode pertama pemerintahan Jokowi gagal meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Apa yang membuat mereka gagal?

Kenapa hanya stuck (bertahan) di 5% karena mengandalkan obat IMF dan Bank Dunia. Yakni melakukan pengetatan anggaran dan umur pajak. Ekonomi yang lagi melambat kalau pajak di uber terutama yang menengah kecil dan anggaran dipotong, sudah pasti ekonomi makin nyungsep. Tiga tahun yang lalu saya katakan ke Pak Jokowi, kalau begini terus sampai 2019 pasti mentoknya maksimum 5 persen. Dan ramalan kami itu terjadi.

Jadi harus diubah cara pendekatan seperti ini dengan cara-cara yang lebih inovatif, termasuk soal pengelolaan hutang karena hutang kita sangat besar sekali dan bunganya super kemahalan.

Anda mengatakan perlu cara-cara inovatif termasuk dalam mengelola utang. Seperti apa?

Kita bisa slope bond bunga yang mahal dengan yang lebih long time sehingga bunganya murah. Karena kalau bunganya turun 1,5 persen saja, itu bisa untuk menyelamatkan BPJS dari defisit Rp 29 triliun.

Menurut Anda, bagaimana cara cepat meningkatkan pertumbuhan ekonomi?

Pada dasarnya komponen paling besar dari GDP kita adalah konsumsi. Jadi cara paling cepat untuk menggenjot kembali pertumbuhan ekonomi adalah dengan menggenjot konsumsi terutama untuk golongan menengah bawah. Caranya bagaimana, jangan yang menengah bawah diuber-uber terus pajaknya. Orang jualan pecel, jualan pempek dipajakin. Justru harus kita longgarkan. Karena kalau golongan menengah bawah ini punya daya beli, dia pasti belanjakan akhirnya ekonomi retail hidup. Tapi kalau orang kaya yang diberi kemudahan pajak dia paling investasi atau beli mata uang asing dan sebagainya.

Saya buktikan di zaman pemerintahan Gus Dur. Saya menaikkan gaji pegawai negeri 125% dalam 21 bulan. Akibatnya 95% dibelanjakan, sektor ritel hidup akhirnya ekonominya hidup. Artinya banyak cara-cara inovatif agar ekonomi kita jangan mandek di 5 persen, bahkan tahun depan sebetulnya bisa dinaikkan menjadi 6,5-7%.

Jokowi menyiapkan sejumlah nama yang selama ini konsen dengan ekonomi digital masuk kabinet. Apakah konsep ekonomi digital dapat membantu mewujudkan cita-cita Jokowi?

Memang bisnis digital makin lama makin penting, makin signifikan. Tapi harus diingat kalau kita hanya sekedar digitalnya, tidak dikombinasikan upaya untuk mengekspor produk, maka yang terjadi seperti sekarang ini. Hampir semua situs situs itu kerjanya impor barang dari Tiongkok doang, 90%. Nah kalau itu terjadi dan lembaga-lembaga situs-situs ini hanya jadi marketing channel buat barang impor yang makin mengurangi. Jadi harus diimbangi pengembangan desa sigital harus diikuti dengan upaya meningkatkan produk ekspor Indonesia yang dijual lewat situs atau platform digital.

Jokowi menyatakan pembangunan SDM menjadi prioritas utama periode kedua kepemimpinannya. Menurut Anda, pembangunan SDM yang baik seperti apa?

Pertama, tingkatkan kualitas pendidikan. Kualitas anak-anak kita, SD, SMP sampai SMA, relatifly lumayan bagus. Yang masalah justru pendidikan tinggi kita karena dikelola secara birokratis. Kita harus dorong perguruan tinggi kita semakin kompetitif. Saran saya sediakan budget misalnya 10 triliun untuk anak-anak, SD, SMP dan SMA yang paling pintar dalam olahraga, kesenian, matematika, fisika, kimia dan bidang lainnya. Kita adakan kompetisi, yang menang kompetisi di tingkat kabupaten atau provinsi dikasih hadiah dalam bentuk beasiswa. Saya yakin anak-anak kita pintar-pintar, kalau mereka sekolah di luar negeri hebat-hebat tapi tidak biasa kompetisi. Kalau kita lakukan itu, kreatifitas, kecerdasan, ketangguhan anak-anak kita akan muncul. Jadi peningkatan kualitas anak-anak didik tidak bisa hanya dengan pendekatan birokratis.

Kedua, perguruan tinggi kita memang payah. Saya dulu waktu kuliah di ITB, ITB masih masuk 100 besar. Hari ini tidak ada perguruan tinggi di Indonesia yang masuk 400 perguruan tinggi top di dunia. Ini harus kita ubah dan itu hanya bisa tercapai kalau kampus dikelola secara akademik, secara lebih demokratis dan dengan kompetisi. Kalau bangsa kita biasa kompetisi, radikalisme otomatis akan berhenti dengan sendirinya.

Bukankah anggaran untuk pendidikan sudah tinggi?

Anggaran pendidikan kita memang tingggi sekali, 20 persen dari APBN. Sayangnya banyak pemborosan dalam pengelolaannya. Mestinya bisa diefisienkan lagi dan anggarannya bisa digunakan untuk memacu memperbaiki kualitas guru. Karena mohon maaf, guru-guru kita kualitasnya jauh banget di berbagai daerah. Kita harus picu guru-guru kita lebih kreatif dan inovatif.

Hari ini sekedar tahu saja tidak bisa. Zaman saya sekolah dulu yang penting tahu ini itu. Hari ini semua bisa tanya Mbah Google. Jadi anak-anak itu dilatih kecerdasan untuk menyaring berita yang benar, menyaring inovasi, menyaring kreativitas dan lain-lain. Bukan hanya sekedar ingat ini itu.

Jokowi memperkuat kabinet dengan figur-figur muda sukses di dunia bisnis seperti Erick Tohir, Nadim Makarim dan Wishnutama. Apakah kehadiran mereka membantu?

Mereka muda, menonjol di angkatannya dan berhasil dalam bisnis korporate. Tapi memang harus diuji dulu orang yang berhasil di korporate belum tentu berhasil dalam public policy. Karena public policy indikator suksesnya bukan hanya keuntungan tetapi apa manfaat untuk publik. Kebanyakan indkatornya intangibel. Tapi saya percaya dan berharap mudah-mudahan setelah dilantik jadi pejabat mereka bisa mengabdi untuk bangsa dan negara.

Jokowi juga menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama. Bagaimana Anda melihat?

Infrastruktur sangat diperlukan kalau kita ingin maju, terutama pembangunan infrastruktur di luar Jawa. Tapi belajar dari pengalaman 5 tahun terakhir kebanyakan infrastruktur dikerjakan oleh BUMN dan mohon maaf itu tidak efisien, ongkosnya kemahalan. Akibatnya utang BUMN terlalu banyak sementara revenue streams dari proyek infrastruktur yang dikerjakan baru bisa diterima lama. Tidak bisa 5 tahun.

Jadi kalau kita ingin terus melanjutkan membangun infrastruktur harus ada kebijakan pembiayaan yang jelas. Pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa jangan menggunakan APBN tetapi dengan pola BOO (Build Own Transfer) atau BOT (Build Operate Transfer), libatkan swasta. Sebab di Pulau Jawa pada dasarnya rakyatnya lebih mampu untuk membiayai infrastruktur. Untuk di luar Jawa yang daya belinya rendah mau tidak mau pembangunan infrastruktur harus pakai budget dari APBN. Jadi dalam pembangunan infrastruktur di Jawa jangan ngandalin APBN, jangan terlalu banyak ngandalin utang, yang penting itu pola finansial diubah termasuk degan melakukan sekuritisasi terhadap aset-aset infrastruktur yang ada. Memang banyak kontroversi di soal ini tapi menurut saya bisa dilakukan.

Banyak kendala swasta mau berinvestasi di Indonesia khususnya di sektor infrastruktur. Apa yang mesti dilakukan?

Pertama yang penting bagi investor berapa keuntungannya. Kalau 11 persen dolar misalnya, akan banyak investor dari dalam dan luar yang mau bangun infrastruktur. Kedua, terkait pembebasan tanah. Di Indonesia pembebasan tanah membutuhkan waktu 3 tahun. Zaman Orde Baru mudah, tentara yang turun. Hari ini tidak bisa jadi negara harus urus. Setelah pembebasan tanah beres baru undang swasta.

Inikah yang membuat investor tak tertarik berinvestasi di Indonesia?

Betul. Pak Jokowi berhubungan baik dengan Tiongkok tapi industri dari Tiongkok tidak ada yang pilih Indonesia untuk investasi. Mereka lebih memilih Thailand dan sebagainya. Itu karena persoalan harga tanah di Pulau Jawa yang sudah terlalu mahal dan tenaga kerja kompetitif. Oleh karena itu yang kita harus promosikan bukan hanya proyek infrastruktur di Jawa, tapi membangun pusat industri-industri baru di luar Jawa dimana harga tanahnya relatif murah sehingga bisa kompetitif dari Thailand, Vietnam dan sebagainya. Tidak perlu khawatir dengan masalah di luar Jawa tidak ada tenaga kerja. Kalau nanti ada pabrik, ada industri, otomatis tenaga kerja terlatih dari Pulau Jawa akan pindah ke sana.[]

Top