Andai Kita Jadi Airlangga

Andai Kita Jadi Airlangga
foto/net

MUNAS Golkar diwajibkan terlaksana 2019, nampaknya akan jatuh di bulan Desember. Bisa juga sebelum Oktober. Dengan pertimbangan satu dan lain-lain, waktu tepat melakukan pergantian pucuk beringin perlu disikapi semua pengurus pleno.

Beringin sedang ditiup angin kencang perubahan. Beralasan raihan suara melorot dibandingkan 2014. Bahkan menjadi skoci Jokowi-Ma'ruf yang kurang kuat berlayar. Ranting pohonnya juga sudah banyak yang mati.

Angin permintaan percepatan Munas akhirnya membentur ruang hampa. Setelah angin bertiup setiap jengkal ruang dialog tertutup rapat. Markas beringin akhirnya tidak terbuka untuk pengurus pleno DPP Partai Golkar. Apalagi buat awak media yang hendak mencari fakta untuk sebuah berita.

Suasana batin politisi beringin sedang mendapat ujian berdemokrasi. Sejumlah besar pengurus pleno DPP Partai Golkar melayangkan mosi tidak percaya. Sebagai reaksi terakhir kala keran demokrasi sudah tertutup rapat.

Apakah ini dinamika politik Golkar jelang Munas? Atau hanya bercak hitam dalam kilaunya warna emas menyala? Bisa berujung pada pelaksanaan Munas mulus, atau banyak krikilnya?

Golkar dulu dan kini boleh jadi tidak berubah seratus persen. Setiap hajatan Munas ada sisa persaingan, sebagai buah dari dinamika yang sebelumnya lahir. Dinamika partai sepuh ini seringkali lebih atraktif dibandingkan partai lain.

Adalah keterpilihan Setya Novanto sebagai negosiasi alot dari dua kubu. Ical yang notabene mengklaim terpilih hasil munas, akhirnya berhadapan dengan kubu Agung Laksono. Ical "terpaksa" merelakan kursi itu dilego ulang asalkan tidak meruntuhkan bangunan partai yang dibuat susah payah.

Gokar terkenal beranak pinak pasca Munas, tapi sejak Ical merelakan di Munaslub Bali tidak terjadi lagi. Sebelumnya tercatat banyak anak tiri Golkar; PKPI, Gerindra, Hanura, Nasdem dan Berkarya. 2019 akhirnya Gerindra yang hampir menyalip induk semangnya.

Dinamika kader Golkar jelang Munas 2019 ditengarai akan mengulang sejarah. Minimal daya kejut politik yang terlihat dari manuver para elitnya di ruang publik. Boleh jadi hanya pemanis jelang Munas atau benar-benar melahirkan kekuatan politik baru yang akan mewarnai Munas 2019.

Andaikan saja jadi Airlangga Hartarto, anda dan juga kita akan menikmati tiupan angin itu penuh kesabaran dalam menyikapi dinamika politik. Tidak menyumbat aspirasi, karena sangat penting dalam demokratisasi internal Golkar.

Airlangga harusnya menyadari, secara organik kepengurusan Golkar kini lahir dari pancaroba politik. Setya Novanto yang dicekok KPK menyulut api perubahan. Hingga akhirnya memilih dirinya sebagai nakhoda Golkar.

Mengurus partai besar dan berpengalaman kurang dua tahun adalah waktu terbatas. Hasil apapun yang diraih akan menyertakan masa kepengurusan sebagai sebab dominan dalam menggerakkan mesin partai.

Prestasi Akbar Tanjung yang menempatkan Golkar juara umum Pemilu 2019 didukung banyak faktor. Salah satunya, masa kepengurusan mumpuni yang didukung dengan program taktis dan strategis.

Tapi prestasi itu akhirnya juga tidak berharga di hadapan para pemilih. Waktu laporan pertanggung jawaban, prestasi Akbar mendapat apresiasi meriah, tapi selebihnya hanya kenangan manis yang tidak berharga di hadapan para pemilih.

Akhirnya Jusuf Kalla mengalahkan Akbar Tanjung yang notabene berprestasi. Para pemilih ternyata punya pertimbangan lain, terutama prospek Golkar dalam genggaman Jusuf Kalla yang nobabene Wapres SBY. Sebuah posisi banyak menjanjikan dibandingkan Akbar Tanjung yang tidak mempunyai jabatan politik lain.

Sebelum semua itu terjadi, baiknya Airlangga tidak membiarkan keran itu tertutup, yang pada gilirannya akan menyulitkan dirinya ketika Munas digelar. Atau boleh jadi Airlangga merasa harus menutupnya, karena membuka keran bakal mamunculkan reaksi yang tidak menguntungkan dirinya.

Menjadi ketua umum Golkar sekarang ini memang sulit dan berisiko. Bukan soal kehilangan hak menentukan siapa dan apa yang bisa didapatkan dari kemenangan Jokowi, tapi lebih pada dinamika partai yang mungkin tidak berpihak pada Airlangga.

Desember mungkin jadi pilihan pelaksanaan Munas Golkar, tapi skenario persaingan tidak mudah. Bisa juga Munas dihelat sebelum pelantikan Jokowi sebagai presiden Oktober nanti. Layak ditunggu dan dicermati.[***]

 

Top