Medsos Dalam Nalar Generasi Kini

Medsos Dalam Nalar Generasi Kini
Ilustrasi/Net

KEHADIRAN gadget akhirnya memilukan, memberi manfaat tapi melahirkan perbuatan yang tidak terpuji. Penggunanya adalah generasi muda, tunas bangsa yang diharapkan bisa membuat Indonesia lebih maju dan beradab.

Sebut saja akibat dari medsos berupa prilaku asusila yang dilakukan generasi kini. Kemewahan tekhnologi telah menyediakan konten asusila yang membuat kaum muda tejerambab pada prilaku tidak baik.

Sebagian besarnya disebabkan oleh kemudahan dalam mengakses teknologi informasi. Konten-konten bermuatan asusila tersebar hampir di semua aplikasi jagat maya. Sebut saja Youtube, Facebook, dan Twitter yang menawarkan konten heterogen, bahkan bebas, sehingga sangat sulit dikontrol pergerakannya.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018 menunjukkan, 91% penetrasi penggunaan internet tahun 2018 didominasi oleh remaja usia 15-19 tahun, kemudian diikuti usia 10-14 tahun sebanyak 66,2%, dan anak-anak usia 5-9 tahun sebanyak 25,2%.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menginformasikan pada tahun 2014 setidaknya ada 38% anak atau remaja memiliki konten pornografi, dan sisanya merupakan korban tindakan asusila yang bersumber dari berbagai media, seperti media cetak 23%, internet 12%, video porno 12%, dan lain-lain 15%. Temuan Indrijati, 2017, menyebut 70,95% orang yang menggunakan internet lebih dari 4 jam sehari terindikasi memiliki kecenderungan perilaku seksual pranikah.  

Sebut saja kasus pesta seks di Blitar yang melibatkan 3 pasangan usia SMA dan video asusila dua remaja di Bali yang tersebar di grup-grup aplikasi whatsapp.

Lalu siapa yang bisa merubuhkan berhala zaman now itu? Yang pada saat bersamaan instistusi keluarga sudah berada dalam model yang berbeda. Kualitas dan kuantitas peran keluarga mendapat tantangan modenisasi.

Pola hidup berkeluarga di tengah persaingan ketat, melahirkan penetrasi anak dan orang tua berkurang. Apalagi kalau terjadi join income yang memaksakan ibu dan ayah lebih banyak di luar rumah dengan seabreg kesibukannya.

Idealnya sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki andil penting dalam menangkal praktik asusila. Sebab, keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi anak.

Meski telah mengalami perubahan, tapi keluarga mempunyai potensi besar untuk ambil peran lebih dibandingkan yang lain. Potensi itu juga yang pada gilirannya dapat membantu pihak lain dalam menangkal efek negatif medsos.

Dalam nalar Islam setiap anak dilahirkan fitroh; suci dari berbuatan nista. Orang tua anaklah yang pada praktiknya menjadikan anak-anak itu akhirnya bisa mengenal dunia nyata di depan mata.

Masalahnya orang tua kini termasuk juga pihak yang kurang lebih sama dalam menggunakan medsos. Sulit rasanya keteladanan lahir bagi anak zaman sekarang dari orang tua yang terlanjur dimanjakan dengan tekhnologi infomasi.

Dalam beberapa program penanggulangan, ada yang mencoba menerapkan bebas dari medsos dalam waktu tertentu. Tapi kelemahannya, cara ini terjebak pada ritual pencegahan yang boleh jadi tidak bisa menyentuh atau mengubah ketergantungan pada medsos.

Karenanya, yang paling efektif adalah menanamkan sedini mungkin dua mata koin medsos. Satu mata memang akan sangat bermanfaat, ketika medsos digunakan sesuai kebutuhannya. Dan pada sisi lain menekankan kemungkinan medsos pada anak, akan melahirkan prilaku yang tidak terpuji.

Walhasil, medsos sudah terlanjur ada dengan segala konsekuensinya. Tinggal bagaimana sikap kita menggunakan sekaligus menjadi contoh menggunakan yang baik untuk kehidupan anak muda kita. Baik itu dilakukan di lingkungam keluarga sampai lefel tertinggi para  penyelenggara negara.[***]

Top