Merawat Kebinekaan Kita

Merawat Kebinekaan Kita
Ilustrasi/Net

SULIT rasanya membayangkan negara ini tetap kokoh berdiri tanpa pondasi kebinekaan. Para pendiri bangsa menjadikan kebinekaan sebagai pondari merajut kain kebangsaan. Hingga lahir Pancasila yang sarat dengan menempatkan sama semua warga negara. Berbeda-beda tapi satu tujuan

Nalar Islam juga menegaskan pentingnya common platform yang oleh almarhum Cak Nur direproduksi dengan istilah kalimatun sawa yakni kesamaan cara pandang dalam membangun negelara dengan menyimpan rapih unsur perbedaan dalam setiap individu warga negara.

Preseden negara madina semasa Nabi Muhammad menjadi rujukan utama bagi Cak Nur dalam menancapkan pondasi kebinekaan dalam bernegara. Waktu itu Sang Nabi menjadi pemimpin bagi wilayah madinah yang terdiri dari beragam agama, suku dan strata sosial.

Pondasi kebinekaan itu ternyata tidak beda dengan yang ada dalam tubuh NKRI. Wilayah membentang dari Sabang sampai meroke dihuni banyak orang yang berbeda. Tapi dengan dasar negara kita Pancasila, NKRI masih kokoh berdiri hingga sekarang.

Mengingat kerusuhan di Papua sekarang, suasana batin kita terganggu. Apa sebabnya, bagaimana cara menyelesaikannya dan kenapa terjadi di tengah upaya pembangun yang akan membuat Indonesia maju?

Jawabannya hanya satu, merawat kebinekaan. Benihnya kan sudah lama tertanam di tanah subur ibu pertiwi. Buah ranum sudah lama dipanen meski belum semuanya bisa menikmati.

Boleh jadi sebabnya masalah pemerataan pembangunan yang belum terasa secara sempurna. Pembangunan selama ini yang banyak berorientasi di jawa telah melahirkan rasa kecemburuan. Saat yang sama sumber daya alam dieksploitasi secara massi oleh negara. Tapi distribusi kesejahteraan tidak merata.

Semisal eksploitasi freeport selama puluhan tahun ditengarai tidak berbanding lurus dengan pembangunan di tanah Papua. Mereka merasakan secara nyata hilir mudik terkait distribusi hasil sumber daya alam, tapi senyatanya penghidupan rakyat Papua belum sejahtera.

Harus diakui pemerintahan Jokowi-JK telah mengubah orientasi pembangunan infra struktur jalan dari terpusat di Jaw  ke wilayah luas lainnya, termasuk di Papua. Tercatat banyak kunjungan Jokowi ke Papua berbarengan denga pembangunan infrastruktur di sana.

Namun ketika kerusuhan di Papua terlihat di depan, pembangunan infrastruktur itu lenyap ditelan bumk. Hingga detik ini kerusuhan itu belum terselesaikan secara sempurna. Boleh jadi berhenti, tapi opini tentang rasa kecewa rakyat Papua masih belum hilang.

Lalu bagaimana cara merawat kebinekaan itu, di tengah pemertaan pembangunan telah sampai di tanah Papua? Serasa belum cukup menjadikan kerusuhan itu berhenti secara sempurna.

Berdasarkan skema sederhana, dialog antara pemerintah dengan tokoh berpengaruh di Papua harus segera terwujud. Dialog itu akan memandu pada titik masalah penyebab kerusuhan, selanjutnya dicarikan solusinya.

Dialog juga akan menjadi media komunikasi produktif bagi penyelesaian sebab terjadinya kerusuhan. Komunikasi terasa menjadi pintu penting untuk memahami sekaligus berlapang dada jika ada salah selama ini atas perlakuan pembangunan di Papua.

Memahami sebab kerusuhan butuh waktu dan fikiran yang matang, mengingat selama ini upaya perhatian atas Papua sudah dilakukan. Terutama sejak Gus Dur mengubah nama dari Irian Jaya ke Papua dan merestui sekaligung menyokong kehadiran Majlis Rakyat Papua.

Upaya Gus Dur boleh jadi hanya pintu masuk yang dalam proses selanjutnya tidak mampu diteruskan dengan pekerjaan kongkrit melakukan pemerataan pembangunan untuk Papua. Mungkin ada yang lebih bermakna dari pembangunan infrastruktur yang selama lebih masif dilakukan di Papua.

Jangan merasa cukup dengan sentuhan mateial pembangunan, boleh jadi ada hal lain yang masih  terasa harus diperbaiki. Memang butuh ekstra pendekatan, tapi hal itu tidak mustahil dilakukan. Semua tokoh harus terbuka melakukan opsi penyelesaian sepanjang itu bermanfaat bagi kepentingan bersama.

Akhirnya merawat kebinekaan itu memang tugas yang tidak ringan bagi kita semua. Kita bersyukur masih diberikan ruang dialog yang bisa dimanfaatkan sebelum pohon kebinekaan itu layu diterpa konflik berkepanjangan.

Kita masih harus terus merawatnya![***]

Top