Apakah Sarung Cak Imin Bisa Lepas?

Apakah Sarung Cak Imin Bisa Lepas?
Ilustrasi/Net

KETERPILIHAN Abdul Muhaimin Iskandar atau yang biasa disapa Cak Imin sebagai nakhoda PKB menyisakan tanda tanya. Apa program startegis PKB dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara? Akankah PKB mampu naik ke tangga kesuksesan di Pemilu 2024? Terakhir, bagaimana regenerasi dan kaderisasi dalam tantangan millenial?

Tiga pertanyaan itu sengaja diajukan mengingat setiap organisasi politik mempunyai tantangan zamannya. Waktu Gus Dur mendeklarasikan PKB terdapat tugas berat merajut kembali kepemimpinan nasional pasca Soeharto lengser. Waktu itu akhirnya memuncak pada keterpilihan Gus Dur sebagai presiden meski diteruskan oleh Megawati.

Gus Dur ditengarai berhasil mempertahankan integrasi NKRI, yang hari ini sangat terasa ketika Papua bergejolak. Dengan mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua hingga merestui kehadiran Majelis Rakyat Papua. Restu yang betolak belakang dengan perlakuan kurang elok pada Papua dalam keluarga besar Republik Indonesia selama 32 tahun.

Yang paling terkenal, Gus Dur adalah seorang yang sangat peduli atas pluralisme. NKRI yang terdiri dari ragam suku, agama dan adat tidak mungkin bertahan tanpa menjadikan penghormatan tanpa pandang bulu. Dan keyakinan ini makin hari mendapatkan ujian di tengah upaya kita menata ulang kehidupan bangsa pasca reformasi.

Meski Gus Dur berasal dari kaum sarungan, tapi etos toleransi mendorong dirinya tampil ke depan membela kesetaraan. Konon, ongkos yang harus dibayar dirinya tidak murah, terutama besebrangan dengan DPR hingga memuncak pada impeacment dalam sidang Istimewa MPR RI.

Sepertinya sejarah juang toleransi untuk mempertahankan NKRI ala Gus Dur menjadi jawaban atas pertanyaan pertama di atas. PKB zaman now harus meneruskan kerja toleransi itu hingga setiap langkah dan tindakan tidak menyisakan konflik seperti yang sekarang terjadi pada masalah Papua.

Tugas berat kemanusiaan itu sedari awal telah digaungkan oleh pendiri NU sebagai pondasi perjuangan politik PKB. Lewat istilah rahmatan lilalamin, memberi rahmat bagi semesta alam, jamaah NU harus mendedikasikan keberagamaannya pada keutuhan bangsa dan negara.

Sejarah PKB adalah sejarah NU dalam konteks perjuangan awal merebut kemerdekaan sekaligus mengisi kemerdekaan itu. Kerja politik PKB tidak mungkin berjarak dengan apa yang  telah dilakukan NU hingga detik ini. Jika ada jarak sejengkal saja maka preferensi pemilih juga akan bergeser.

Karenanya ini erat dengan pertanyaa  kedua, hanya kerja politk otentik berorientasi kemaslahatan umat yang mampu menjadikan PKB naik tangga dalam pemilu 2024. Tantangan intoleransi sudah ada di depan mata dan membutuhkan aksi kongkrit di lapangan.

Sangat mungkin cara yang ditempuh PKB adalah proses bertahap. Terkenal ungkalan “almuhafadhatu ala alqodim ashsholih wa alakhdzu bil jadidi alshalah”; menjaga yang baik dan berusaha kreatif mengambil mekanisme yang lebih baik.

Jika PKB merasa cukup dengan prestasi kini tanpa ada trobosan baru yang lebih baik, maka dia akan tergerus zamannya. Retorika politik sedapat mungkin menjawab problem toleransi yang terus bermunculan di ruang publik.

Kerja politik PKB memerangi pola radikalisme yang memojokkan kaum minoritas boleh jadi merupakan pintu awal untuk mematangkan bangunan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi ini harus didialogkan dengan perkembangan prilaku sosial keagamaan yang telab berubah.

Adalah dinamika kaum millenial yang mempunyai ciri unik sekaligus inspiratif. Milenial adalah generasi emas dari perkembangan tekhnologi informasi mutakhir. Ini terkait dengan pertanyaan ketiga tentang prospek politik PKB di mata kaum millenial.

PKB harus mampu berada dalam top of mind anak muda yang nanti menjadi penerus kerja-kerja toleransi di masa mendatang. Kaderisasi dan regenerasi insan politik PKB harus bergerak secara simultan dengan kebutuhan dan kebiasaan kids zaman now.

Pesona kaum milenial memang menjadi perhatian setiap partai politik dalam upaya kaderisasi dan regenerasi. Dia adalah bidadari cantik yang diperebutkan banyak partai untuk meraih kesuksesan elektoral. Soal di mana ditolak dalam proses pendekatan itu hal lain, semua partai berusaha keras bisa terlihat manis di hadapan generasi gadget ini.

Ini sangat terasa dari iklan layanan publik, setiap partai berusaha menampilkan wajah millenial. Dari tongkrongan diri dengan ragam atribut sampai program perekrutan yang sarat dengan kebutuhan dan kebiasaan kaum milenial.

Jika PKB mampu merealisasikan tiga jawaban di atas bisa dipastikan makin kokoh dalam jagat politik tanah air. Kemampuan itu tentu saja ditentukan oleh konsistensi dan kreatifitas kerja politik di masa depan. Jangan sampai melakukan kerja politik sebatas syarat rukun bersifat ritual yang kering dari daya pikat bagi para pemilih di masa mendatang.

Sarung Cak Imin itu jangan sampai terlepas seketika, yang bisa merepotkan jajaran PKB di masa mendatang. Minimal hanya membenarkan cara gulung sarung jika ada kebutuhan strategis. Pengalaman memimpin partai yang ada dalam diri Cak Imin tetap akan diuji.

Semuanya akan berubah sesuai kebutuhan zaman. Hanya kerja politik konsisten dan kreatif yang bisa memajukan PKB di tengah perubahan sosial politik tanah air. Dan sarung Cak Imin masih tetap indah terlihat jika mengikuti hukum besi tuntutan zaman.

Semoga![***]

Top